Thursday, January 11, 2018

KRITIK ARSITEKTUR



ISTANA MERDEKA





Karena pemerintahan Republik Indonesia sejak pengakuan kedaulatan berpusat di Jakarta, maka Istana yang sering digunakan adalah Istana Negara dan kadang-kadang Istana Merdeka yang dulu dikenal dengan Istana Gambir. Baik untuk pemerintahan maupun upacara maupun acara resmi kenegaraan. Selain berfungsi sebagai kantor, Istana Negara digunakan sebagai kediaman Presiden yang sebelumnya merupakan kediaman Gubernur Jendral Hindia Belanda dan Panglima pendudukan Jepang.
Sejak Indonesia merdeka tercatat Presiden Soekarno (sejak tahun 1950, sebelumnya di kediamannya di Jalan Pegangsaan Timur 56, dan di Gedung Agung Yogyakarta), Presiden Abdurrahman Wahid, dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Pada masa Presiden Megawati Soekarnoputri, ruang kerja presiden pindah di Istana Negara dengan alasan karena Bina Graha berada di Jalan Veteran yang lalu lintasnya ramai sehingga mengganggu, selain pertimbangan keamanan. Bina Graha sendiri diubahfungsinya menjadi Museum Istana. Untuk kediamannya, Presiden Megawati memilih tinggal di kediamannya di Jalan kebagusan atau Jalan Teuku Umar.


PERAN, KESAN DAN BENTUK BANGUNAN


Peranan gedung ini merupakan paling penting di sebuah instansi kenegaraan, karena merupakan tempat pertemuan anatara pemimpin negara-negara asing. Kesan pada gedung ini terlihat seperti bangunan pada zaman romawi atau Hindia - Belanda. Memang hanya berlantai 1, tidak bertingkat, tetapi menggunakan pilar-pilar atau kolom-kolom besar
  









Sumber :


Gambar : google


No comments:

Post a Comment