Friday, January 1, 2016

Green City (Kota Hijau)




Green City (Kota hijau) adalah konsep pembangunan kota berkelanjutan dan ramah lingkungan yang dicapai dengan strategi pembangunan seimbang antara pertumbuhan ekonomi, kehidupan sosial dan perlindungan lingkungan sehingga kota menjadi tempat yang layak huni tidak hanya bagi generasi sekarang, namun juga generasi berikutnya.


Green city bertujuan untuk menghasilkan sebuah pembangunan kota yang berkelanjutan dengan mengurangi dampak negatif pembangunan terhadap lingkungan dengan kombinasi strategi tata ruang, strategi infrastruktur dan strategi pembangunan sosial.


Green city terdiri dari delapan elemen, yaitu :



1. Green planning and design (Perencanaan dan rancangan hijau)


Perencanaan dan rancangan hijau adalah perencanaan tata ruang yang berprinsip pada konsep pembangunan kota berkelanjutan. Green city menuntut perencanaan tata guna lahan dan tata bangunan yang ramah lingkungan serta penciptaan tata ruang yang atraktif dan estetik.


2. Green open space (Ruang terbuka hijau)


Ruang terbuka hijau adalah salah satu elemen terpenting kota hijau. Ruang terbuka hijau berguna dalam mengurangi polusi, menambah estetika kota, serta menciptakan iklim mikro yang nyaman. Hal ini dapat diciptakan dengan perluasan lahan taman, koridor hijau dan lain-lain.


3. Green Waste (Pengelolaan sampah hijau)


Green waste adalah pengelolaan sampah hijau yang berprinsip pada reduce (pengurangan), reuse (penggunaan ulang) dan recycle (daur ulang). Selain itu, pengelolaan sampah hijau juga harus didukung oleh teknologi pengolahan dan pembuangan sampah yang ramah lingkungan.


4. Green transportation (Transportasi hijau)


Green transportation adalah transportasi umum hijau yang fokus pada pembangunan transportasi massal yang berkualitas. Green transportation bertujuan untuk meningkatkan penggunaan transportasi massal, mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, penciptaan infrastruktur jalan yang mendukung perkembangan transportasi massal, mengurangi emisi kendaraan, serta menciptakan ruang jalan yang ramah bagi pejalan kaki dan pengguna sepeda.


5. Green water (manajemen air yang hijau)


Konsep green water bertujuan untuk penggunaan air yang hemat serta penciptaan air yang berkualitas. Dengan teknologi yang maju, konsep ini bisa diperluas hingga penggunaan hemat blue water (air baku/ air segar), penyediaan air siap minum, penggunaan ulang dan pengolahan grey water (air yang telah digunakan), serta penjagaan kualitas green water (air yang tersimpan di dalam tanah).


6. Green energy (Energi hijau)


Green energi adalah strategi kota hijau yang fokus pada pengurangan penggunaan energi melalui penghemetan penggunaan serta peningkatan penggunaan energi terbaharukan, seperti listrik tenaga surya, listrik tenaga angin, listrik dari emisi methana TPA dan lain-lain.


7. Green building (Bangunan hijau)


Green building adalah struktur dan rancangan bangunan yang ramah lingkungan dan pembangunannya bersifat efisien, baik dalam rancangan, konstruksi, perawatan, renovasi bahkan dalam perubuhan. Green building harus bersifat ekonomis, tepat guna, tahan lama, serta nyaman. Green building dirancang untuk mengurangi dampah negatif bangunan terhadap kesehatan manusia dan lingkungan dengan penggunaan energi, air, dan lain-lain yang efisien, menjaga kesehatan penghuni serta mampu mengurangi sampah, polusi dan kerusakan lingkungan.


8. Green Community (Komunitas hijau)


Green community adalah strategi pelibatan berbagai stakeholder dari kalangan pemerintah, kalangan bisnis dan kalangan masyarakat dalam pembangunan kota hijau. Green community bertujuan untuk menciptakan partisipasi nyata stakeholder dalam pembangunan kota hijau dan membangun masyarakat yang memiliki karakter dan kebiasaan yang ramah lingkungan, termasuk dalam kebiasaan membuang sampah dan partisipasi aktif masyarakat dalam program-program kota hijau pemerintah.


              Penerapan Konsep Green City di kota Padang 


Konsep Green city merupakan konsep perkotaan yang bagian-bagiannya mengaplikasikan program-program untuk keseimbangan ekosistem dan  peningkatan kualitas lingkungan. Green city merupakan program aplikatif dari peraturan Undang-Undang Penataan Ruang yang mengharuskan 30% dari bagian kota adalah Ruang Terbuka Hijau (RTH) . Dalam perkembangannya, konsep Green city tidak hanya berhubungan dengan pengadaan RTH semata. Beberapa langkah lain yang berdampak secara tidak langsung juga dapat dilakukan, seperti melalui pengelolaan sampak, air dan transportasi. 


Dewasa ini kota-kota di Indonesia sedang digencarkan konsep Green city dalam perencanaan dan perancangan pembangunan kota. Beberapa kota sudah mengaplikasikan sebagian konsep ini dalam sistem pembangunan kota, seperti di kota Padang, Sumatera Barat.
  
Padang adalah ibukota  provinsi Sumatera Barat yang terletak di tepi barat Pulau Sumatera. Luas keseluruhan kota Padang adalah 694,96 km2, yaitu 1,65% luas provinsi Sumatera Barat. Secara biofisik, di bagian  barat merupakan area perkotaan yang relatif datar, dan di bagian timur relatif berbukit dan masih alami. Pendapatan perkapita kota ini cukup tinggi, dan aktivitas  perekonomiannya berjalan dengan cepat, sehingga jumlah penduduknya dinilai  paling banyak di provinsi Sumatera Barat. Kota Padang ini untuk pertama kalinya tahun1986 mendapat Piala Adipura untuk kota terbersih di Indonesia dan hingga 2009 kota ini telah mendapat 17 kali penghargaan Adipura selama 4 periode  penilaian [Wikipedia].


 Dalam penerapan konsep Green city di kota Padang dapat dikaji beberapa elemen dan bagian kota yang dapat dijadikan contoh. Bagian kota tersebut kemudian dinilai dengan indikator kota hijau, yaitu : Green planning and design, Green openspace, Green waste, Green transportation, Green water, Green energy, Green building, Green community.


Untuk indikator Green planning and design, kota Padang dirancang sesuai dengan biofisik kawasan yang terdiri dari daerah landai dan berbukit. Daerah landai yang menghadap Samudera Hindia dijadikan kawasan perkotaan dengan aktivitas bisnis dan perekonomian yang padat dan cepat, sedangkan daerah  perbukitan merupakan hutan-hutan lindung sebagai penyangga ekologis yang masih alami dan bagian dari jajaran Pegunungan Bukit Barisan. Dalam  penerapannya, pemerintah kota Padang telah berupaya mengurangi konsentrasi penduduk di daerah perkotaan dengan memindahkan kawasan permukiman ke  bagian timur, sesuai dengan RTRW kota Padang tahun 2010-2013.


Dilihat dari indikator Green openspace, di kota Padang ini  banyak terdapat Green openspace (Ruang Terbuka Hijau) yang dibangun untuk kebutuhan ekologis kota. Beberapa contohnya adalah ; RTH Imam Bonjol, RTH Taman Melati, Taman Hutan Raya Bung Hatta, dan yang direncanakan akan dibangun yaitu hutan kota di kawasan Delta Malvinas.


Dalam penerapan Green waste, kota Padang telah mengaplikasikan teknologi pembuangan dan pengolahan sampah yang ramah lingkungan, sehingga dapat dikatakan sekaligus mengaplikasikan konsep Green energy . Salah satu  proyek besar Green waste dan Green energy yang dilakukan adalah WHRPG (Waste Heat Recovery Power Generation) di PT Semen Padang yang bekerjasama dengan pemerintah Indonesia dan pemerintah Jepang. Kehadiran proyek  pembangkit listrik yang memanfaatkan gas buang pabrik Indarung V ini ditujukan untuk pelestarian lingkungan hidup dalam upaya menurunkan efek gas rumah kaca [PT Semen Padang].


Untuk pelaksanaan Green transportation, kota Padang telah mengaplikasikan pengembangan sistem transportasi yang berkelanjutan. Di sepanjang jalan Thamrin terdapat taman kecil sebagai pembatas jalan yang masing-masing di rancang oleh sekolah-sekolah dari SD hingga SMA. Jalur ini merupakan kawasan tertib lalu lintas.

Sistem Green water  untuk efisiensi pemanfaatan sumberdaya air di kota Padang ini diterapkan dengan adanya ruang terbuka biru yang mampu mengurangi run off  yang dapat menyebabkan banjir. Sesuai dengan  biofisiknya, di kota ini banyak terdapat muara, pesisir, dan sungai. Sungai-sungai di kota padang ini masih terlihat alami karena langsung dari pegunungan dan  bermuara di kota. Kota ini banyak terdapat bandar-bandar besar yang  bermuara ke laut. Di pinggiran danau terdapat jalur hijauan yang meningkatkan daerah resapan. 

Dalam pembangunan Green building  untuk gedung-gedung perkantoran dan tempat tinggal, di kota Padang tidak terlalu banyak bangunan-bangunan tinggi. Hal ini dikarenakan kondisi geografis kota ini yang rawan gempa. Kebanyakan perkantoran dibangun dengan satu hingga dua lantai, dengan desain arsitektur tradisional yang dipadukan dengan unsur modern, sehingga material yang digunakan ramah lingkungan. Bangunan-bangunan dengan material kaca  jarang digunakan di kota Padang, sehingga lebih ramah lingkungan. 


Untuk penerapan konsep Green city di kota Padang ini, pemerintah kota sudah gencar membangkitkan kesadaran masyarkat untuk berpola perilaku yang cinta lingkungan, melalui Green community  yang dibentuk oleh organisasi-organisasi sosial. Aksi-aksi sosial untuk cinta lingkungan juga dilakukan di kota Padang, untuk mengajak masyarakat kota Padang lebih peduli dan aktif. 


Secara garis besar, kota Padang telah dapat dikatakan sebagai Green city, sesuai dengan delapan indikatornya. Namun dalam kenyataan di lapangan, banyak  permasalahan dan kendala yang terjadi dalam penerapan konsep Green City ini. Oleh karena itu, peninjauan konsep Green city di suatu kota hendaknya diintegrasikan dengan solusi dari masalah dan kendala yang ada di kota tersebut, agar kedepannya konsep Green city tak hanya sebagai pengaplikasian konsep, namun juga sebagai pemenuhan kebutuhan lingkungan suatu kota.


CONTOH GREEN CITY 


1.  Healthy House ( Indonesia ).



Salah satu prinsip Green Architecture adalah working with Climate (bekerjasama dengan iklim). Wilayah Indonesia yang beriklim tropis dengan ciri-ciri udara panas-lembab, curah hujan rata-rata cukup tinggi dan sinar matahari yang bersinar sepanjang tahun, diperlukan penanganan khusus dalam merancang bangunan Healthy House pada daerah tropis. Perencanaan dengan mempertimbangkan kondisi lingkungan ini akan memperoleh hasil yang maksimal. Tidak jarang kita temui bangunan dibuat tanpa memperhitungkan aspek iklim, misalnya dengan menggunakan dinding kaca keseluruhan, padahal pantulan sinar dan panas matahari menambah panas dalam ruangan.



2. Gedung Perpustakaan Nasional Singapura 



Gedung ini menggunakan teknik-teknik kinerja konsumsi energi yang rendah (Ir Jimmy Priatman, M Arch. Perpustakaan Nasional Singapura dirancang sebagai state-of-the art nya perpustakaan untuk di iklimtropis.Dibuka untuk umum di tahun 2005Terdiri dari 16 lantai dengan luas tiap lantai kira-kira 58,000 m2 Kira-kira 6,000-8,000 m2 dirancang sebagai ‘green spaces.’ Kehadiran landskap yang teduh, telah mengurangi temperatur permukaan bangunan. Panas diteruskan ke udara bebas, sehingga meningkatkan kondisi termal dalam ruangan.
  





Nama : M. Hafizh Haidar
Kelas : 2TB06
NPM : 26314236


No comments:

Post a Comment